Selasa, 10 November 2009

Edelweis Bunga Abadi


Edelweis Bunga Abadi

9 Juli 2009 · Disimpan dalam Indonesia, flora, kerusakan alam, lingkungan hidup · Tagged Alam Indonesia, Anaphalis javanica, bunga abadi, edelweis, edelweiss, endemik, Gunung, Indonesia, kerusakan alam, lingkungan hidup, mitos, tanaman langka

edelweis_01Edelweis (kadang ditulis eidelweis) atau Edelweis Jawa (Javanese edelweiss) juga dikenal sebagai Bunga Abadi yang mempunyai nama latin Anaphalis javanica, adalah tumbuhan endemik zona alpina/montana di berbagai pegunungan tinggi Indonesia. Tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian maksimal 8 m dengan batang mencapai sebesar kaki manusia walaupun umumnya tidak melebihi 1 m. Tumbuhan yang bunganya sering dianggap sebagai perlambang cinta, ketulusan, pengorbanan, dan keabadian ini sekarang dikategorikan sebagai tanaman langka.

Saya teringat dengan Suzie, teman wanita saya yang dengan bangga memamerkan bunga edelweis yang diberikan oleh pacarnya. Katanya, edelwis merupakan perlambang cinta yang penuh ketulusan mengingat tekstur yang halus dan lembut dengan warnanya yang putih (walau ini sebenarnya tergantung kepada habitat di mana ia tumbuh yang menyebabkan warnanya agak kekuning-kuningan, keabu-abuan ataupun kebiru-biruan).

edelweis_2Edelweis juga melambangkan pengorbanan. Karena, kata Suzie, bunga ini hanya tumbuh di puncak-puncak atau lereng-lereng gunung yang tinggi sehingga untuk mendapatkannya membutuhkan perjuangan yang amat berat. Ditambah lagi dengan adanya larangan membawa pulang bunga ini, pemetik harus main petak umpet dengan petugas Jagawana. Dan jika kedapatan memetik bunga ini bisa-bisa seperti teman saya yang terpaksa harus berendam di Ranu Kumbolo malam-malam ketika ketahuan mengambil bunga ini di Gunung Semeru.

Yang paling dasyat menurut Suzie, meskipun dipetik bunga ini tidak akan berubah bentuk dan warnanya, selama disimpan di tempat yang kering dengan suhu ruangan. Karenanya, lanjut Suzie dengan antusias, edelweis adalah bunga keabadian. Bunga yang membuat cinta akan tetap abadi!

Saya hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil berlalu tanpa sepatah katapun. Sikap Suzie tak berbeda dengan para (oknum) pecinta alam dan pendaki gunung yang merasa bangga jika bisa membawa edelweis pulang sebagai bukti bahwa ia telah menaklukkan sebuah gunung. Keserakahan dan mitos ini telah membuat edelweis sebagai bunga langka bahkan terancam kepunahan. Sebuah studi yang dilakukan oleh Hakim Luqman dalam Kasodo, Tourism, and Local People Perspectives for Tengger Highland Conservation, menyimpulkan bahwa tanaman ini telah punah dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

alun-alun suryakencanaPadahal Edelweis merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus, karena mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. Bunga-bunganya, yang biasanya muncul di antara bulan April dan Agustus, sangat disukai oleh serangga, lebih dari 300 jenis serangga seperti kutu, tirip, kupu-kupu, lalat, tabuhan, dan lebah terlihat mengunjunginya.

Kini Taman Nasional Gunung Gede Pangrango diklaim sebagai tempat perlindungan terakhir bunga abadi ini. Di sini terdapat hamparan bunga edelweis yang tumbuh subur di alun-alun Suryakencana sebuah lapangan seluas 50 hektar di ketinggian 2.750 meter di atas permukaan laut.

So, bagi yang sealiran dengan Suzie, silahkan datang ke sana. Petiklah sepuasnya, bawa pulan semua dan biarkan bunga abadi ini musnah abadi untuk selamanya!

Minggu, 08 November 2009

Berdiri Diatas Awan Meraih Bintang

Bagi seorang pendaki gunung sering terbersit pemikiran yang simpel, yaitu mendaki gunung cukuplah sebagai mendaki gunung. Tak perlulah seorang pendaki membuat dan memikirkan argumentasi sedemikian rupa untuk menjelaskan kenapa mereka melakukannya. Toh, bagi orang awam apapun argumentasinya, kegiatan mendaki gunung tetaplah dianggap hal yang tak masuk di akal.

Maka Sir George Leigh Mallory (1886-1924) –-hilang dalam expedisi Everest 1924– hanya menjawab singkat setengah kesal “Because it is there…” saat ditanya kenapa ia ingin menaklukan puncak gunung. Segera saja umpatan singkat itu diimbuhi dengan seabreg filosofi pendakian yang berat dan populer hingga kini, walau sebuah rumor –yang tak perlu Anda percayai– menyebutkan Sir Mallory saat itu sedang terburu-buru menuju ke toilet.Tapi bagi seorang “Real Backpaker” tetaplah mendaki gunung dengan visi dan misi yang paling sempurna, dengan niat dan oriantasi yang paling agung, dengan motivasi yang dapat dipertanggungjawabkan dihadapan sang Pencipta gunung! Karena, wahai sahabat, besok, kelak, kaki, tangan, mulut kita kan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang tlah dikerjakannya.

The Seven Summits
Pendakian kawasan dalam konteks internasional telah populer sejak beberapa masa lalu di mana para pendaki elite membagi belahan dunia ini ke dalam tujuh kawasan dengan masing-masing puncak tertingginya (seven summits). Salah satunya adalah kawasan Australia-Oceania di mana puncak tertinggi berada di Indonesia, yaitu Carstenz Pyramid (4.884 meter dpl) di Papua.

Sungguh tak ada salahnya bila dalam melakukan pendakian gunung di Tanah Air ini kita melebarkan minat pendakian ke kawasan nusantara lainnya. Tentunya akan banyak pengalaman baru di tengah karakter gunung yang berbeda bila kita mendaki gunung di kawasan Nusantara yang berlainan. Sehingga akan didapatlah koleksi puncak-puncak kawasan yang akan lebih memperkaya wawasan pendakian seseorang.

Kawasan manakah yang dapat kita jadikan target pendakian kawasan di wilayah Nusantara? Terserah Anda, sebetulnya. Anda mempunyai penilaian subyektif sendiri untuk membagi-bagi Nusantara ini ke dalam beberapa kawasan namun yang penting adalah setelah melakukan pendakian gunung di kawasan-kawasan yang berbeda tersebut maka anda mendapatkan suatu pencapaian tersendiri.

Namun tak ada salahnya bila kita membagi Nusantara ini ke dalam tujuh kawasan kepulauan besar seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali-Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Maka didapatlah tujuh puncak yang boleh-boleh saja kita katakan seven summits juga. Sehingga pendakian kawasan tersebut tentunya akan menjadi suatu khazanah pendakian tersendiri yang tak seorang pun akan menyangkal keanggunan pencapaiannya.